Tanpa Ilmu

Dari sakitnya kecewa, aku belajar bahwa aku pernah salah. Hanya karena aku yang ditinggalkan tak lantas membuatku menjadi yang paling benar. Membuatku seolah-olah bisa menjatuhkan vonis terberat pada orang lain. Dibuat jatuh tak lantas membuatku sadar. Mencaci takdir pernah kulakukan. Siapa aku, sampai bisa-bisanya menjadikan Allah pun ikut disalahkan. Jelas saja bukan lega yang kudapatkan. Menumpuk sakit membuatku membenci segala hal yang ditetapkan Allah atas hidupku pada saat itu. Tak menjadi pilihannya, tak menjadi miliknya, pun tak menjadi takdirnya, membuatku lupa tentang janji Allah yang telah menyiapkan pengganti yang lebih baik dari apa yang telah hilang. Namun bukan itu poin utama dari ini semua, dari kecewa yang ditetapkan setelah kehilangan. Ada pesan yang ingin Allah sampaikan. Mungkin sudah sejak lama, hanya saja aku yang terlambat memaknai setiap tanda yang diberiNya. Adalah penempatan harapku yang tak seharusnya. Harapku terlalu tinggi pada dia, makhluk Allah. Pada apa-apa yang membuatku terlalu bergantung kepadanya seolah melupakan Allah. Meletakkan bahagiaku di tangan yang sejatinya tak bisa memberikan apa-apa. Terbukti dari akhir yang tak pernah sama sekali masuk dalam akal pikiranku. Lambat sekali kusadari bahwa jalan terbaik sedang dipilihkan Allah. 

Dari sepinya sendiri, aku jadi sering introspeksi diri. Ternyata masih banyak kekurangan yang aku miliki. Yang dulunya kupikir sudah baik, ternyata malah terbalik. Apanya yang dewasa. Kalau dengan tak ada lagi pesan darinya di saat pagi, langsung tak semangat menjalani hari. Apanya yang dewasa. Kalau dengan tak ada lagi yang mengantar pergi, langsung berpikir untuk tetap mengurung diri. Sepinya sendiri, rumitnya suasana hati, juga beratnya jalan yang harus dilalui, terus membelengguku dalam ruang derita yang tak lagi mampu kuhadapi. Lagi-lagi aku lupa bahwa aku hanyalah seorang hamba yang sedang diminta untuk kembali. Ada yang sedang menantiku. Menungguku bercerita panjang lebar tentang beratnya ujian yang aku rasakan saat itu. Aku terlalu bodoh saat aku berpikir bahwa aku hanya sendiri, tak ada yang bisa kujadikan tempat untuk berserah diri. Ada yang sedang menantiku. Menungguku untuk meminta diberikan solusi dari beratnya ujian yang sedang kuhadapi saat itu.  Aku terlalu sombong saat aku berpikir bisa mengatasi semuanya seorang diri. Susah payah mencari ketenangan atas ujian hati, jawabnya ada pada Sang Pemilik hati. Seketika langsung membuatku berpikir "kemana saja aku selama ini?". Setelah sendiri dan sepi, barulah kembali. Satu persatu, pelan sekali kumulai menemukan apa-apa yang perlu kuperbaiki. Lambat sekali kusadari bahwa Allah menjadikan aku sendiri, bukan karena aku tak pantas lagi dimiliki. Bukankah dalam menanti harus diimbangi dengan terus memperbaiki diri?

Dari sulitnya menahan diri, aku belajar bahwa untuk menjadi kuat memang perlu latihan. Mampu bertahan dalam sepinya sendiri belum tentu sudah berakhirnya ujian hati. Saat ujian kembali menghampiri, pilihannya ada dua. Pertama, bertahan dan melanjutkan perjalanan seorang diri meski tertatih. Atau, kedua, berbalik arah mematahkan semua usaha demi bahagia dengan cara yang salah lagi. Bagai murid yang harus di test untuk naik kelas, untuk bisa lebih dekat dengan Allah pun demikian. Ujian hati yang Allah beri adalah latihan bagi aku dan kita semua yang sedang susah payah menahan diri. Sejak saat itu, sekarang, sampai nanti Allah memilihkan dan menggerakkan hati seorang hambanya untuk datang menjemput, ujian hati untuk tetap menahan diri pasti akan selalu datang menghampiri. Seberapa kuat aku bertahan, kuartikan sama dengan seberapa kerasnya dia, yang Allah takdirkan untukku, berusaha untuk sampai di titik kami saling menemukan. Memang tidak mudah, tidak pernah terasa mudah. Namun kupastikan, selama aku berusaha menjaga diri dalam taat, Allah pun melindungiku dari maksiat. 

Dariku yang pernah salah menaruh harap
Dariku yang masih memperbaiki diri
Dariku yang tetap menanti



Minggu dini hari

Popular Posts