-AWALAN
Izinkanku bercerita, tentang kisahku yang singkat. Dimulai saat aku kembali mengingat, tentang kamu yang tak bisa lagi kudekap erat; Ada yang salah sejak pertama kali kamu mendekat. Tentang senyum yang berlabuh pada sapaan hangat. Membuatku berpikir apakah kamu yang sengaja Tuhan kirimkan untuk kujadikan penyelamat?
Ini bukan pertemuan pertama diantara kita. Bukan pula dialog perdana. Anehnya, mampu membuatku membuka mata. Menyadari bahwa akan ada obat dari setiap luka. Menghantarkanku pada halaman kedua. Kembali berani menulis beberapa harap dan doa. Dengan kata "aamiin" di setiap akhir kalimatnya.
Tak ada ikatan spesial diantara kita yang kamu beri. Sejak dulu maupun saat ini. Pun manisnya janji-janji untuk terus membersamai. Semua hal baik yang kamu beri, itulah yang akan kuterima juga di akhir nanti, begitu terus diriku meyakini.
Segala harap dan doaku terhenti di hari ini, hari bahagiamu. Tidak denganku. Tepat pada seperempat halaman baru. Bagaimana bisa secepat itu kamu berlabuh, pada dermaga yang penantinya bukan aku. Apa semudah itu membelokkan kapalmu yang padakulah akan tertuju.
Kamu ingin aku melakukan apa? Sejak kamu datang dan kembali menyapa, kupastikan kamulah satu-satunya yang membuatku lupa. Jika akan berakhir seperti ini, untuk apa kamu datang. Merawatku namun kembali kamu buang. Kamu sendiri yang meraih tanganku dan mengajak terbang. Kamu pula yang membuatku jatuh tersungkur pada perngharapan panjang. Kehancuranku kembali terulang.
Harus bagaimana halaman ini kutamatkan. Kukira akan sampai pada akhir yang membahagiakan. Atau setidaknya tidak secepat ini kamu tinggalkan. Lalu bagaimana dengan doa-doa yang terlanjur sering kusampaikan pada Tuhan. Atau jangan-jangan Tuhan sedang mempersiapkan jawaban, namun kamu terlalu cepat menyimpulkan. Kamu begitu cepat mengambil keputusan. Bahkan sebelum aku berani menjelaskan tentang semua perasaan.
-AKHIRAN
Pencarianmu telah sampai pada titik temu. Doa-doa yang kuyakin kau panjatkan di tiap malam telah menemukan tempatnya bernaung. Langkahmu telah sampai pada peraduannya. Menemukan langkah lain yang juga tertuju pada titik yang sama. Pilar-pilar kokoh yang kau bangun telah berpenghuni, tak lagi kau sendiri. Kakimu telah memiliki sepasang lainnya untuk bersama-sama mencapai puncak. Dengan iringan pahala ditiap langkahnya. Dan juga doa sebagai pengeratnya. Selamat karena telah berbahagia. Akan kuamini semua "semoga" yang dikirimkan padamu. Sedikit banyaknya aku juga bahagia. Karena beberapa langkahmu, sebelum sampai menemukan langkahnya, adalah juga langkahku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar