Namanya rindu

Pada sekat waktu yang memberi jeda untuk sebuah temu, ternyata benar memang berat menahan rindu. Segera cukupkan saja ini semua. Mintalah waktu berputar tanpa lama. Hingga dapat kunikmati lagi indah senyumnya.

Sedekat lebah dengan bunganya

 Selamat malam dari sini. Dari rindu yang melekat kuat di hati. Tentang sebuah nama yang aku tahu memang belum pasti. Yang sedang sering-seringnya terselip dalam setiap doa di penghujung sepi. Berharap kamu selalu aman meski aku pun tahu kamu mampu menjaga diri. Tak apa ini hanya sekedar perbincangan ringan di dalam hati. Sekuat-kuatnya coba ditahan kok makin ingin diungkapkan. Sekuat-kuatnya coba dipendam kok makin sulit padam. 

Boleh jujur? Kamu tuh beruntung. Cuma diem aja padahal. Tapi bisa buat aku segila ini. Cuma diem aja padahal. Tapi bisa-bisanya mengambil alih seluruh perhatianku. Dari beberapa yang pernah ada, kamu yang paling gak banyak usaha. Anehnya, aku makin terpana. Ada apa sebenarnya.. 


Aku tahu kamu pasti gak tahu kan kalo disini ada yang diam-diam suka. Diam-diam rindu. Diam-diam berdoa. Diam-diam ingin cepat bertemu. Gapapa.. gak perlu tahu juga. Sementara ini gapapa. Sementara ini masih rahasia. Sampai waktunya tiba. Saat Allah sampai di penghujung rencana. Kun fayakun. Saat setiap doa yang pernah ada lalu menjadi nyata. Yang tadinya gak ada lalu di depan mata. Jemari tangan yang ingin sekali kulengkapi, lalu resmi kumiliki.  Pundak yang kudamba untuk bersadar, dengan hangat terbuka lebar. Sabar ya, aku. 


Aku mau kamu tahu, setelah tahu ya kamu harus bersyukur. Aku yang keras kepala ini, akan tetap mau kamu. Akan tetap ada aku dalam perjuangan doa di setiap malam. Gapapa lama, gapapa sulit, gapapa kalo memang harus usaha lebih. Kalo aku maunya kamu yaudah. 


Dari ketidaktahuan kamu, aku pun bersyukur. Aku disini, diantara banyaknya bunga yang ada, aku yakin kamu bisa menjadi lebah yang bisa menemukan bunganya. Terbang diatas ribuan bunga, mendekat pada satu bunga. Aku percaya kita bisa sedekat lebah dengan bunganya. Tetap berjuang menemukan aku ya. 



seyakin aku

Baru saja berpamitan dengan senja, rindu itu kembali kurasa. 

Ini bukan cinta satu pihak, ini terasa berbeda. 

Aku yakin; 

seyakin aku melihat kamu meminta agar aku menguatkan namamu dalam setiap doa, 

seyakin aku merasa kamu meminta aku menunggu sampai saat itu tiba, 

juga seyakin aku merasa bahwa kita memang berada pada satu garis takdir yang sama. 

Dan masih banyak keyakinan-keyakinan lain yang tercipta dari kedua mata yang kamu punya,

dari keempat mata yang bertemu tanpa sengaja.

Tanpa Ilmu

Dari sakitnya kecewa, aku belajar bahwa aku pernah salah. Hanya karena aku yang ditinggalkan tak lantas membuatku menjadi yang paling benar. Membuatku seolah-olah bisa menjatuhkan vonis terberat pada orang lain. Dibuat jatuh tak lantas membuatku sadar. Mencaci takdir pernah kulakukan. Siapa aku, sampai bisa-bisanya menjadikan Allah pun ikut disalahkan. Jelas saja bukan lega yang kudapatkan. Menumpuk sakit membuatku membenci segala hal yang ditetapkan Allah atas hidupku pada saat itu. Tak menjadi pilihannya, tak menjadi miliknya, pun tak menjadi takdirnya, membuatku lupa tentang janji Allah yang telah menyiapkan pengganti yang lebih baik dari apa yang telah hilang. Namun bukan itu poin utama dari ini semua, dari kecewa yang ditetapkan setelah kehilangan. Ada pesan yang ingin Allah sampaikan. Mungkin sudah sejak lama, hanya saja aku yang terlambat memaknai setiap tanda yang diberiNya. Adalah penempatan harapku yang tak seharusnya. Harapku terlalu tinggi pada dia, makhluk Allah. Pada apa-apa yang membuatku terlalu bergantung kepadanya seolah melupakan Allah. Meletakkan bahagiaku di tangan yang sejatinya tak bisa memberikan apa-apa. Terbukti dari akhir yang tak pernah sama sekali masuk dalam akal pikiranku. Lambat sekali kusadari bahwa jalan terbaik sedang dipilihkan Allah. 

Dari sepinya sendiri, aku jadi sering introspeksi diri. Ternyata masih banyak kekurangan yang aku miliki. Yang dulunya kupikir sudah baik, ternyata malah terbalik. Apanya yang dewasa. Kalau dengan tak ada lagi pesan darinya di saat pagi, langsung tak semangat menjalani hari. Apanya yang dewasa. Kalau dengan tak ada lagi yang mengantar pergi, langsung berpikir untuk tetap mengurung diri. Sepinya sendiri, rumitnya suasana hati, juga beratnya jalan yang harus dilalui, terus membelengguku dalam ruang derita yang tak lagi mampu kuhadapi. Lagi-lagi aku lupa bahwa aku hanyalah seorang hamba yang sedang diminta untuk kembali. Ada yang sedang menantiku. Menungguku bercerita panjang lebar tentang beratnya ujian yang aku rasakan saat itu. Aku terlalu bodoh saat aku berpikir bahwa aku hanya sendiri, tak ada yang bisa kujadikan tempat untuk berserah diri. Ada yang sedang menantiku. Menungguku untuk meminta diberikan solusi dari beratnya ujian yang sedang kuhadapi saat itu.  Aku terlalu sombong saat aku berpikir bisa mengatasi semuanya seorang diri. Susah payah mencari ketenangan atas ujian hati, jawabnya ada pada Sang Pemilik hati. Seketika langsung membuatku berpikir "kemana saja aku selama ini?". Setelah sendiri dan sepi, barulah kembali. Satu persatu, pelan sekali kumulai menemukan apa-apa yang perlu kuperbaiki. Lambat sekali kusadari bahwa Allah menjadikan aku sendiri, bukan karena aku tak pantas lagi dimiliki. Bukankah dalam menanti harus diimbangi dengan terus memperbaiki diri?

Dari sulitnya menahan diri, aku belajar bahwa untuk menjadi kuat memang perlu latihan. Mampu bertahan dalam sepinya sendiri belum tentu sudah berakhirnya ujian hati. Saat ujian kembali menghampiri, pilihannya ada dua. Pertama, bertahan dan melanjutkan perjalanan seorang diri meski tertatih. Atau, kedua, berbalik arah mematahkan semua usaha demi bahagia dengan cara yang salah lagi. Bagai murid yang harus di test untuk naik kelas, untuk bisa lebih dekat dengan Allah pun demikian. Ujian hati yang Allah beri adalah latihan bagi aku dan kita semua yang sedang susah payah menahan diri. Sejak saat itu, sekarang, sampai nanti Allah memilihkan dan menggerakkan hati seorang hambanya untuk datang menjemput, ujian hati untuk tetap menahan diri pasti akan selalu datang menghampiri. Seberapa kuat aku bertahan, kuartikan sama dengan seberapa kerasnya dia, yang Allah takdirkan untukku, berusaha untuk sampai di titik kami saling menemukan. Memang tidak mudah, tidak pernah terasa mudah. Namun kupastikan, selama aku berusaha menjaga diri dalam taat, Allah pun melindungiku dari maksiat. 

Dariku yang pernah salah menaruh harap
Dariku yang masih memperbaiki diri
Dariku yang tetap menanti



Minggu dini hari

lepas

Di ujung sajadah pada dinginnya malam, pada satu-satunya yang menjadikan kemungkinan dari tiap-tiap ketidak-adaan. Inginku tak lagi menyebutmu. Entah bagaimana cara kerjanya sampai hanya namamu yang selalu dengan mudah kusebutkan. Mati-matian menjauh. Padahal masih sangat ingin dekat. Sakit-sakitan melupa. Padahal masih sangat ingin diingat. Pada ribuan kali malamku, ini yang paling berat. Meminta agar disana, kamu tak lagi ingat. Satu-satunya cara agar kita sama-sama tak lagi terjerat. Adalah saling melepas meski banyak rindu tersirat.

Sepenuhnya Berhenti

Pembelaan diri dari beratnya beban melupa seringkali membuat lupa diri. Lelahnya melangkah sendiri seringkali menjadi alasan ingin kembali. Haruskah hati terluka lagi oleh orang yang mati-matian dihindari?

Biar saja, aku memang belum sepenuhnya berhenti. Dari cerita yang sebenarnya sudah lama kamu akhiri. 

Biar saja, aku memang belum sepenuhnya berhenti. Dari indahnya mimpi yang pernah sama-sama kita susun rapih.

Biar saja, aku memang belum sepenuhnya berhenti. Dari sulitnya merindu seorang diri.

Biar saja, aku memang belum sepenuhnya berhenti. Dari nyamannya bahu yang selalu kucari-cari.

Biar saja..

Popular Posts