Sedari Awal



Sedari awal, kita adalah sebuah kerumitan yang kita ciptakan sendiri. Kita membawa kutub yang sama. Alih-alih saling membahagiakan malah berujung kepura-puraan. Lalu kita paksakan, meski kita punya banyak penolakan. Kita percaya tentang adanya perubahan di tengah-tengah alur cerita. Kita terus memaksa bersama meski seringnya tak sama. Kita ciptakan ilusi-ilusi indah agar mereka percaya bahwa sejatinya kita bahagia. Kita sepakat melupakan hakikat nikmatnya saling mencinta. Kamu mengajariku caranya membuat lengkungan sempurna di garis bibir. Dan aku membuatmu mengerti tentang fungsi dibalik bahumu yang kokoh. Lalu kita saling bertukar dimensi. Semakin lama, kita semakin saling menyakiti. Luka demi luka kita buat sendiri. Kita tidak saling menikmati perjalanan ini. Mimpi-mimpi kita hanya terpaku dengan seberapa tinggi nilai yang mereka beri. 
Sedari awal, kita adalah sebuah kesalahan. Kita buat titik tengah antara dua kisah yang semestinya masih bisa dipertahankan. Mengatas-namakan rasa bosan, kita sembunyikan satu ikatan. Saling membodohi pasangan yang mati-matian berusaha tetap mempertahankan. 

Sedari awal, kita adalah pemaksaan.
Sedari awal, ini adalah pengkhianatan. 

Penjelasan Kata kepada Luka


Dari kata,
Sunyimu adalah luka. Dari jutaan kata yang ada, tak satupun ucap mampu merangkainya menjadi satu kalimat penjelas. 
Matamu adalah luka. Dari banyaknya objek di dunia, tak ada satupun yang ditemuimu sebagai alasan bahagia. 
Malammu adalah luka. Tentang cerita sepasang kelopak hitam. Menitipkan buliran rindu pada angin malam agar terbang dan sampai pada Sang pemilik mimpi.
Menulismu adalah luka. Ungkapan dari bungkam mu yang akan terekam sepanjang masa. Menyampaikan tiap-tiap cerita lewat pilihan kata. Menyisipkan namanya lewat bayang-bayang sajak. Mengalunkan lagu romantis lewat bait-bait luka. 



Teruntuk jiwa yang kupuja..


Teruntuk jiwa yang kupuja..
Langkah yang kamu ambil dulu, mungkin kah akan membawamu kembali. Saat hentakan kerasmu menggoyahkan seluruh isi hati, mampukah kamu membalikkan arah laju yang kian menjauh. 

Teruntuk jiwa yang kupuja..
Genggam yang kamu renggangkan dulu, mungkin kah erat lagi. Saat semua harapan menjadi begitu ironi; dan tiap-tiap kebahagiaan kini sebatas gurauan.

Teruntuk jiwa yang kupuja..
Sandaran hangat yang kamu buang, bisakah kamu bawa pulang. Aku lelah menjadi lemah. Pagi dan malam semakin sulit kujamah. 


Jatuhkan Hatiku Pada Kamu


Jatuhkan hatiku pada cinta yang seiman. Cinta yang akan terus membawaku dalam taat. Cinta yang penuh sabar. Cinta yang bersedia mendewasa bersama. Cinta yang mampu kujadikan tempat berlindung saat resah mengejar hingga kesudut-sudut mimpi. Cinta yang tetap hangat kala prahara mendinginkan suasana. Cinta yang saling bertukar doa dan rindu jika berjauhan. Jatuhkan hatiku pada cinta yang lembut. Menyemai keindahan dari tiap-tiap rindu berkabut. Jatuhkan hatiku pada cinta yang kuat. Yang hanya tetap ada satu nama didalamnya. Jatuhkan hatiku pada cinta yang egois. Marah jika tak ada kata rindu di tiap-tiap pesan yang terkirim. Marah jika tak ada panggilan sayang di tiap-tiap telpon yang berdering. Marah jika ku terlambat menjawab telpon. Marah jika ku tak ada di saatnya membuka mata. Jatuhkan hatiku pada cinta yang pantang menyerah. Jatuhkan hatiku pada cinta yang tak mudah putus asa. Jatuhkan hatiku pada cinta yang terus mengulang kalimat 'aku menyayangimu'. Jatuhkan hatiku pada cinta yang teduh. Cinta dengan dada yang lapang. Cinta yang selalu bersedia mendengar. Cinta dengan bahu yang hangat. Yang hanya padanyalah satu-satunya tempatku menjadi tenang. 

Jatuhkan hatiku pada kamu.

Gerimis Kecil


Kecil-kecil gerimis turun
Sejak pagi jadi alasanku bangun
Kecil-kecil gerimis turun
Menghanyutkan rindu rasa racun
Kecil-kecil gerimis turun
Kau datang menjemput dan aku masih melamun
Kecil-kecil gerimis turun
Aku dibungkam ilusi culun

Langit Bilang


Satu hal yang lupa kutanyakan
Padamu saat sebelum meninggalkan
Pernahkah sedikit tulus kamu rasakan?
Saat sebelum akhirnya turun hujan
Berbalik dan lari kemudian
Janji-janji untuk tetap selaras begitu saja dilupakan
Akhirnya kita berlomba untuk saling melupakan
Kita bukan sepasang air yang jatuh dari langit
Tapi kenapa menyamakan langkah saja terasa begitu rumit
Benar yang langit bilang
Akan datang lain dari yang hilang

Untukmu, diriku sendiri


Untukmu yang kusayang, seberapa pentingkah perhatian dari mereka? Sampai membuatmu lupa bahwa mereka sepenuhnya bukan sebuah kewajibanmu, begitu pun sebaliknya. Sadarlah, akan ada dosa-dosa kecil yang terus kau timbun jika melulu masih begini. Turunkan kepalamu. Pandanganmu begitu berharga untuk bisa mereka dapatkan. 
Untukmu yang kusayang, masihkah kau tak menyadarinya? Tentang apa-apa yang boleh terlihat dan tidak. Tentang bagaimana dirimu tertutup jubah anggun dengan seharusnya. Mereka terlalu liar untuk bisa menjamahi keindahanmu dengan sepasang mata nakalnya. Indahmu tak pantas dinikmati begitu saja.

Untukmu yang kusayang, tak mampu kah kau melawan semuanya? Hingar-bingar dunia yang masih menjadi tujuan dalam berjalanmu. Mencari dan terus mencari tentang segala yang belum kau miliki. Tak mampu kah kau menyelaraskan langkahmu? Membersamai setiap jengkal waktu dengan garis lurus yang sebenarnya telah lama terpatri dalam hatimu. 

Untukmu yang kusayang, bisa kah kau berhenti sebentar saja? Semuanya memang telah membuatmu terlena. Sampai kau tak sadar sudah sejauh mana kau terbuai. Mengikuti kerlap-kerlip lampu yang terlihat menyenangkan, padahal justru akan menghancurkan. Sanggupkah kau memutar langkahmu? Jangan biarkan otakmu terus memusuhi hati kecilmu. Hatimu ingin didengar. Sejak kapan kau mulai tak terkendali seperti ini?


[Sebuah kumpulan puisi] Cerita yang Singkat untuk Ingatan yang Panjang


-AWALAN
Izinkanku bercerita, tentang kisahku yang singkat. Dimulai saat aku kembali mengingat, tentang kamu yang tak bisa lagi kudekap erat; Ada yang salah sejak pertama kali kamu mendekat. Tentang senyum yang berlabuh pada sapaan hangat. Membuatku berpikir apakah kamu yang sengaja Tuhan kirimkan untuk kujadikan penyelamat?

Ini bukan pertemuan pertama diantara kita. Bukan pula dialog perdana. Anehnya, mampu membuatku membuka mata. Menyadari bahwa akan ada obat dari setiap luka. Menghantarkanku pada halaman kedua. Kembali berani menulis beberapa harap dan doa. Dengan kata "aamiin" di setiap akhir kalimatnya. 

Tak ada ikatan spesial diantara kita yang kamu beri. Sejak dulu maupun saat ini. Pun manisnya janji-janji untuk terus membersamai. Semua hal baik yang kamu beri, itulah yang akan kuterima juga di akhir nanti, begitu terus diriku meyakini. 

Segala harap dan doaku terhenti di hari ini, hari bahagiamu. Tidak denganku. Tepat pada seperempat halaman baru. Bagaimana bisa secepat itu kamu berlabuh, pada dermaga yang penantinya bukan aku. Apa semudah itu membelokkan kapalmu yang padakulah akan tertuju.

Kamu ingin aku melakukan apa? Sejak kamu datang dan kembali menyapa, kupastikan kamulah satu-satunya yang membuatku lupa. Jika akan berakhir seperti ini, untuk apa kamu datang. Merawatku namun kembali kamu buang. Kamu sendiri yang meraih tanganku dan mengajak terbang. Kamu pula yang membuatku jatuh tersungkur pada perngharapan panjang. Kehancuranku kembali terulang. 

Harus bagaimana halaman ini kutamatkan. Kukira akan sampai pada akhir yang membahagiakan. Atau setidaknya tidak secepat ini kamu tinggalkan. Lalu bagaimana dengan doa-doa yang terlanjur sering kusampaikan pada Tuhan. Atau jangan-jangan Tuhan sedang mempersiapkan jawaban, namun kamu terlalu cepat menyimpulkan. Kamu begitu cepat mengambil keputusan. Bahkan sebelum aku berani menjelaskan tentang semua perasaan. 


-AKHIRAN
Pencarianmu telah sampai pada titik temu. Doa-doa yang kuyakin kau panjatkan di tiap malam telah menemukan tempatnya bernaung. Langkahmu telah sampai pada peraduannya. Menemukan langkah lain yang juga tertuju pada titik yang sama. Pilar-pilar kokoh yang kau bangun telah berpenghuni, tak lagi kau sendiri. Kakimu telah memiliki sepasang lainnya untuk bersama-sama mencapai puncak. Dengan iringan pahala ditiap langkahnya. Dan juga doa sebagai pengeratnya. Selamat karena telah berbahagia. Akan kuamini semua "semoga" yang dikirimkan padamu. Sedikit banyaknya aku juga bahagia. Karena beberapa langkahmu, sebelum sampai menemukan langkahnya, adalah juga langkahku.

Mungkin Sebuah Surat


Pada hati yang sudah lama tertatih, masih kuatkah kau menahan semua ini? Saat pohon-pohon harapmu tersapu bersih oleh badai kemarin. Menyisakan banyaknya serpihan debu yang seringnya membuat matamu memerah. Belum lagi nafasmu. Kau sampai harus menarik nafas panjang hanya untuk satu detik paru-parumu mengembang. Coba sekarang tengok telapak kakimu. Mau seperti apalagi kau paksa ia tuk melangkah? Menopang beratnya tubuh yang terus menerus menjamu rindu. Membuatmu hilang arah tak tahu kemana harus meneduh.
Sampai disini apa sudah jelas? Belum. Kau masih saja keras kepala. Terus mendongak seakan tak pernah terjadi apa-apa. Sungguh tak pantas kau disebut manusia. Wajar bila kau ditinggalkan begitu saja. Lihat dirimu! Apa yang dulu menjadi alasanmu bertahan sampai tak mau mendengarkan. Perjalananmu sia-sia. Hatimu akhirnya tetap menemui kecewa. Sadarkan dirimu yang mulai sekarat. Sudah waktunya kau beristirahat. Jika memang sudah terlambat, biarkan ini menjadi sebuah surat. Surat dariku untuk hatiku yang semakin tersesat:

Apakah sesulit ini kau bertahan? Sudah lama kau biarkan dirimu mengikuti mata angin yang seringnya menyesatkan. Tak sedikit pun kau kasihan? Jika lelah mestinya kau katakan, bukan paksakan. Jika sedih mestinya kau ungkapkan, bukan rahasiakan. Tak bisakah kau melepaskan? Semua. Semua yang ada dalam genggaman dan pikiran. Tak bisakah kau merelakan? Semua. Semua yang ada dalam ingatan juga perasaan. 


Popular Posts