H A L U

pergi dan hilanglah. seperti saat kamu benar-benar yakin untuk memberikan jarak diantara kita. katamu, bersama tidak akan sama jika aku tetap egois. kupikir, kamu yang keras kepala. karena berani menjaga jarak secara sepihak. tapi kamu bilang, aku yang kekanakan. karena hanya ingin suaraku yang didengar dan menutup telinga untuk semua kata yang kamu ucapkan.

pergi dan hilanglah. seperti saat kamu dengan semangat melangkah menjauh dariku. sekarang, aku kehilangan nyaman yang hanya kutemukan pada kedua pundakmu. nyaman dan tenangnya, kamu bawa pergi semuanya semaumu. aku seperti malam yang masih menggenggam erat pagi.

pergi dan hilanglah. seperti saat kamu dengan sadar menghapus setiap cerita yang ada. setiap cerita yang kita cipta, kini hanya sebatas coretan buram sebuah tinta. tiap-tiap sudut kota ini adalah potongan-potongan kecil dari banyaknya buku cerita yang kamu sobek. kamu sibuk menghilangkan cerita disaat aku sibuk mengenang semua yang pernah ada.

"kita sedang tidak bermain petak umpet. jangan bersembunyi, kamu tahu aku lemah dalam mencari."

harusnya kamu mendengar semua permintaanku waktu itu. agar tidak ada hati yang patah. harusnya kamu tetap bersamaku waktu itu. agar tidak ada hati yang kecewa. 

kamu cepat sekali berubah. pergi membuat luka lalu kembali dengan dada terbuka. yang tadinya keras kepala ingin meninggalkan, sekarang bersikeras membawa kembali semua kenangan. secepat kamu berlalu, secepat itu juga kamu halu.

kupikir, aku pantas melepaskan sesuatu yang sudah tidak ingin menjadi milikku. 

kupikir, aku pantas menemukan nyaman dan tenang pada pundak lainnya.

kupikir, memang ini adalah saatnya aku benar-benar harus berhenti membaca buku kosong.

kupikir, bukan aku yang lemah dalam mencari. hanya saja sesuatu yang dengan sengaja menghilang, memang tidak perlu untuk ditemukan kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Popular Posts