Aruna menutup pintu kamarnya dan langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur. Matanya lurus menatap langit-langit kamar. Pikirannya terbang mengingat-ingat kembali percakapannya sore tadi dengan Vebi, sahabatnya. "Terus, lo udah siap? Jangan lama-lama lah." pertanyaannya lebih terdengar seperti kalimat perintah. Aruna diam. Tak punya jawaban apapun untuk pertanyaan dari sahabatnya. Vebi tesenyum. Ia paham sekali apa yang ada dalam pikiran Aruna. "Yaudah gua ngerti. Gapapa kalo emang lo mau sendiri dulu. Tapi inget tahun depan umur lo udah 26, Run. Jangan keasyikan berkarir juga. Jadi lupa sama perasaan." lanjut Vebi sambil menyantap kembali baksonya. Aruna tersenyum getir. "Rese, lo. Gua masih belum kepikiran deh kayaknya. Masih pengen fokus kerja juga. Biarin aja lah. Toh nyokap gua juga biasa aja." ucap Aruna sambil mengaduk-aduk bakso di mangkuknya. "Iya, sih. Tapi jangan keasikan juga. Mentang-mentang nyokap diem terus lo juga jadi lupa." balasnya mengingatkan. Aruna hanya tersenyum.
Aruna masih berbaring di kasurnya. Jam sudah menunjukkan pukul 22.00. Ucapan Vebi seperti menjadi alarm bagi dirinya. Selama ini ia lupa bahwa masih ada kekacauan yang belum ia benahi. Selama ini ia berpura-pura tuli untuk hatinya sendiri. Dan selama ini ia berpura-pura sehat untuk kesakitan yang ia simpan di sudut hati. Tiap-tiap pribadi baru yang ia temukan, nyatanya tak cukup mengisi ruang kosong di sudut hati. Tak juga cukup menyembuhkan kecewa yang terpaksa kini harus diingat lagi. Pikirannya terus berputar-putar pada masa lalu. Kepalanya seperti ingin memuntahkan semua ingatan buruknya dua tahun lalu. Aruna merasakan sesak di dadanya. Sesak yang sama persis ia rasakan waktu itu. Matanya terpejam, seakan menarik Aruna untuk masuk dalam kegelapan. Menjebaknya dalam ruang pengap yang hanya ada dia dan semua gambaran tentang kejadian itu. Tiap-tiap detiknya seperti berputar ulang. Jelas dan rinci sekali. Lelaki yang membuatnya kecewa seperti hadir, dekat sekali dengannya. Suaranya jelas terdengar di telinga Aruna. Suara yang tidak ingin lagi ia dengar. Rekaman kejadian itu terus terulang dan berputar tanpa henti. Dadanya semakin sesak. "Aaaaaaaarrrggghhhhh!!!!!"
"Aruna, lo kenapa?" tanya Vebi. Entah sejak kapan Vebi masuk ke kamar Aruna. Dan bagaimana bisa?
"Vebi.." Aruna memeluk erat tubuh sahabatnya. Menumpahkan semua air mata yang selama ini selalu ditahannya.
"Lo kenapa? Tenang dulu. Nih diminum." Vebi memberinya segelas air putih. "Gua tuh balik lagi kesini buat ngasih ini. Hape lo ketinggalan tadi di mobil gua. Pas gua sampe di depan kamar lo, gua denger lo teriak. Terus pas gua coba buka ternyata pintu lo gak dikunci. Bahaya tau!" jelas Vebi panjang lebar. Aruna diam dan mengeringkan pipinya yang basah.
"Veb, ternyata gua belum sembuh." ucap Aruna lirih. "Selama ini gua kira gua udah baik-baik aja. Semuanya udah normal. Tapi ternyata belum. Disini.." jelas Aruna sambil memegang dadanya. "di dalam sini masih ada luka, Veb. Gua masih belum ikhlas. Semuanya tadi seperti berputar ulang. Detik demi detik kejadiannya, gua masih inget jelas banget. Ternyata ini alasannya gua selalu bilang belum siap." Aruna kembali menenggak air putihnya.
Vebi tersenyum. "Gua sih udah tahu kalo lo masih nyimpen lukanya. Lo jangan pura-pura kuat lagi ya, Run. Jangan kabur dari ruang yang masih berantakan. Jangan juga lo kunci ruangannya. Walaupun berat, coba dihadapi. Pelan-pelan dibenahi ruangannya. Yang berantakan coba dirapihin. Yang perlu dibuang, yaudah dibuang. Tapi ya jangan semuanya dibuang juga. Kadang nih ya, kejadian yang buruk di masa lalu itu perlu kita simpan untuk sewaktu-waktu kita buka lagi."
"Buat apa buka-buka kejadian buruk?" tanya Aruna.
"Katanya sih ya, salah satu tanda kalo kita udah ikhlas dan melepas kejadian buruk itu adalah saat kita membuka lagi kejadian itu, kita akan mengingatnya dengan persepsi yang berbeda. Bukan lagi sebagai luka kecewa. Begitu.." jelas Vebi.
"Ah valid gak tuh." ledek Aruna.
"Rese lo." sahut Vebi mendorong pundak Aruna. "Malem ini gua nginep ya. Jaga-jaga takut lo nekat minum racun. Hahahaha"
"Hmm... mulai kan." balas Aruna mendorong Vebi dengan bantal.
***
Tok. Tok.
Aruna bangun begitu mendengar suara dari balik pintu kamarnya.
"Maaf, cari siapa ya, Mas?" tanya Aruna setelah tau siapa yang membangunkannya di hari minggu pagi.
"Saya Ian. Ini benar kan Kost-an Putri Ibu Bakti dengan nomer kamar 6?" tanya laki-laki dengan tinggi semampai dan berpakaian seperti ingin jogging lengkakp dengan sepatunya.
"Oh iya benar. Ada apa ya, Mas? Mas ini anaknya Ibu kost ya? Kayaknya bulan ini saya udah transfer deh Mas." lanjut Aruna menggaruk kepala, masih bingung. Vebi yang terbangun karena mendengar keributan kecil di pintu, datang menghampiri dua manusia itu.
"Ada apaan sih, Run?" tanya Vebi sambil mengucek-ngucek mata kanannya. "Eh Ian. Ya ampun udah sampe aja." Vebi kaget, Ian pun kaget. Cuma Aruna yang bingung.
"Lah kok lo kenal?" tanya Aruna.
"Hmm...aduh kayaknya bakal kelamaan kalo gua jelasinnya sekarang. Bentar ya Ian." ucap Vebi seraya menutup pintu kamar. "Daripada lo kebingungan, mending sekarang lo mandi. Nanti gua ceritain." bisik Vebi menjelaskan dengan kedua tangannya mendorong-dorong Aruna untuk masuk ke dalam kamar mandi.
"Iya tapi.." belum selesai bicara, Vebi langsung menutup pintu kamar mandi.
"Udah lo mandi aja. Gua janji pasti gua jelasin." ucap Vebi sedikit berteriak dari balik pintu kamar mandi.
***
"Yaudah nanti sore aku jemput ya, Run." ucap Ian seraya melambaikan tangan.
"Iya, Mas." jawab Aruna singkat. Aruna bukanlah tipe orang yang mudah akrab dengan orang yang baru ia kenal. Terlebih lagi dengan Ian. Sosok laki-laki yang secara tiba-tiba muncul di depan kamarnya pagi ini.
Aruna langsung masuk ke kamar setelah melihat motor Ian berlalu di ujung jalan.
"Rese ya lo!" ucap Aruna sambil melempar handuk basah bekas keringatnya ke arah Vebi.
"Hahahahaha! Ya maaf, Run. Tapi gimana date nya pagi ini?" ledek Vebi.
"Date apaan jam 06.00 pagi begini. Udah buruan jelasin ini semua apa?" tanya Aruna sedikit kesal. "tunggu. Jangan bilang lo lagi nyomblangin gua?" tanya Aruna dengan lirikan mata sinis.
"Yap! Tepat sekali. Udah gausah kaku-kaku banget. Berteman aja dulu. Ian orangnya baik kok. Gua udah kenal dia dari pas SMA dulu. Dan gua rasa, kalian punya kepribadian yang pas." jelas Vebi.
"Ah rese lo. Tapi bener sih. Dia suka olahraga, sedangkan gua engga. Ya lumayan lah gua jadi punya pembimbing olahraga pribadi. Hahaha."
"Makanya jangan jutek-jutek ya sama yang ini. Oya, denger-denger Ian itu suka sama cewe kutu buku yang puitis dan romantis kayak lo gini. Haha!" ledek Verbi. "Gua balik dulu ya. Nanti siang gua telpon." seru Vebi sambil membuka pintu.
"Yaudah hati-hati ya." balas Aruna.
***
Hari ini tepat 3 bulan berlalu sejak pertama kali pertemuannya dengan Ian. Aruna masih tidak percaya dengan yang ada dihadapannya saat ini, Ian dan sebuah cincin yang ada di genggaman tangan kanannya. Tangan kiri Ian menggenggam erat jemari lentik Aruna. Ian ingin wanita dihadapannya itu ikut merasakan kesungguhan yang Ian rasakan, bahkan sejak pertama kali Ian mengetuk pintu kamarnya. Ian ingin ada kata "Ya" setelah pertanyaan yang dilontarkannya 3 menit lalu. Aruna masih diam belum menjawab. Matanya seperti sedang menimbang-nimbang apakah hatinya sudah siap untuk menerima Ian. Ataukah selama ini Aruna hanya merasa nyaman karena Ian selalu bersedia menemaninya menghabiskan waktu bersama, bertukar cerita, dan membahas setiap buku yang baru saja selesai dibaca. Aruna hanya takut membuat laki-laki setulus Ian menjadi kecewa begitu tahu masa lalu yang dimilikinya. Ian mengeratkan kembali genggamannya, seperti memberi isyarat bahwa ia ingin Aruna segera memberinya jawaban.
"Mas, terima kasih sudah mau mengenalku sebagai Aruna. Bagi aku, waktu 3 bulan terakhir ini adalah warna baru yang kamu bawa ke dalam hidup aku. Kamu seperti warna-warni pensil yang sengaja Tuhan kasih dengan tujuan agar aku kembali mengingat bahwa keindahan itu masih ada. Tapi, di buku yang aku punya sekarang, belum sepenuhnya aku menghapus coretan dari kisah yang lama. Bukan karena aku gak mau, aku hanya masih kesulitan menghapusnya. Sejujurnya, aku menyadari betul bahwa perlahan, nama Mas sudah masuk dalam barisan baru di bukuku, menggantikan barisan cerita lama yang memang seharusnya sudah sejak lama tergantikan. Sekarang, aku hanya khawatir, apakah Mas bersedia menjadi penghapus tanpa meninggalkan tugas Mas sebagai pensil warna?"
"Run, kamu perlu tahu, sejak Mas melihat kamu untuk pertama kalinya, Mas punya keyakinan yang kuat bahwa kamu adalah sebaik-baiknya buku yang tepat untuk aku jadikan tempat mengukir kisah baru. Pada kamu lah aku mampu menjadi sebaik-baiknya pensil warna. Jika sekarang kamu meminta aku untuk menjadi penghapus dan membantumu menghilangkan cerita lama itu, maka aku siap. Yang aku butuh adalah bukan lembaran kosongmu, Run. Karena serusak apapun buku yang kamu punya sekarang, jika kamu mengizinkannya, aku mau memberikan banyak warna indah di dalamnya."
Ian mencium tangan Aruna. Memasangkan cincin di jari manisnya.
Hari ini, malam ini, di Bandung tahun 2020, Aruna kembali mengizinkan hatinya untuk dicintai.
Selesai.
