t a k p a n t a s

Kerap kali rindu datang secara tiba-tiba. Lewat mimpi, ia selipkan sebuah nama. Samar-samar pula ia tunjukkan wajah yang tak perlu waktu lama untukku ingat segera. Rindu tak pernah mau tahu betapa sulitnya aku menghapus semua rekam kisah yang pernah ada. Ia lebih egois dari Sang Pemiliknya. Dan aku, ternyata tak pernah benar-benar bisa menghilangkan walau nyatanya aku lebih dulu dihilangkan.


Seringkali rindu terasa begitu kuat ditengah sibuk yang sengaja kubuat-buat. Rekam kisah kita seakan tahu apa yang harus diperbuat. Tentang hal melupakan, aku kalah hebat. Maaf karena dulu aku begitu sering mengabaikan, dan sekarang biar saja perpisahan yang menghukumku jauh lebih kejam. Pergimu mungkin akan lebih baik daripada tetapmu. Aku hanya tidak ingin kamu tahu bagaimana terlukanya aku saat wajahmu hanya bisa kutemui dalam mimpi. Dan telapakmu hanya bisa kugenggam dalam mimpi. Juga pundak itu, yang hanya bisa kumiliki dalam mimpi.


Kerap kali rindu membuat semua yang terjadi terasa tidak adil. Bagaimana bisa kamu ikut merasakan sedangkan kamu sibuk membagi rindumu dengan dia. Bagaimana bisa secepat itu kamu mengganti nama yang selalu kamu selipkan dalam sujudmu. Benarkah ini adalah rindu yang tak pantas?


Terlepas dari peliknya memiliki rindu sendiri, pergimu mengajarkan aku banyak hal.Tentang luka-luka yang juga perlu dihargai, juga mencintai dengan lebih masuk akal.

Fiksi #1

Aruna menutup pintu kamarnya dan langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur. Matanya lurus menatap langit-langit kamar. Pikirannya terbang mengingat-ingat kembali percakapannya sore tadi dengan Vebi, sahabatnya. "Terus, lo udah siap? Jangan lama-lama lah." pertanyaannya lebih terdengar seperti kalimat perintah. Aruna diam. Tak punya jawaban apapun untuk pertanyaan dari sahabatnya. Vebi tesenyum. Ia paham sekali apa yang ada dalam pikiran Aruna. "Yaudah gua ngerti. Gapapa kalo emang lo mau sendiri dulu. Tapi inget tahun depan umur lo udah 26, Run. Jangan keasyikan berkarir juga. Jadi lupa sama perasaan." lanjut Vebi sambil menyantap kembali baksonya. Aruna tersenyum getir. "Rese, lo. Gua masih belum kepikiran deh kayaknya. Masih pengen fokus kerja juga. Biarin aja lah. Toh nyokap gua juga biasa aja." ucap Aruna sambil mengaduk-aduk bakso di mangkuknya. "Iya, sih. Tapi jangan keasikan juga. Mentang-mentang nyokap diem terus lo juga jadi lupa." balasnya mengingatkan. Aruna hanya  tersenyum.


Aruna masih berbaring di kasurnya. Jam sudah menunjukkan pukul 22.00. Ucapan Vebi seperti menjadi alarm bagi dirinya. Selama ini ia lupa bahwa masih ada kekacauan yang belum ia benahi. Selama ini ia berpura-pura tuli untuk hatinya sendiri. Dan selama ini ia berpura-pura sehat untuk kesakitan yang ia simpan di sudut hati. Tiap-tiap pribadi baru yang ia temukan, nyatanya tak cukup mengisi ruang kosong di sudut hati. Tak juga cukup menyembuhkan kecewa yang terpaksa kini harus diingat lagi. Pikirannya terus  berputar-putar pada masa lalu. Kepalanya seperti ingin memuntahkan semua ingatan buruknya dua  tahun lalu. Aruna merasakan sesak di dadanya. Sesak yang sama persis ia rasakan waktu itu. Matanya terpejam, seakan menarik Aruna untuk masuk dalam kegelapan. Menjebaknya dalam ruang pengap yang hanya ada dia dan semua gambaran tentang kejadian itu. Tiap-tiap detiknya seperti berputar ulang. Jelas dan rinci sekali. Lelaki yang membuatnya kecewa seperti hadir, dekat sekali dengannya. Suaranya jelas terdengar di telinga Aruna. Suara yang tidak ingin lagi ia dengar. Rekaman kejadian itu terus terulang dan berputar tanpa henti. Dadanya semakin sesak.  "Aaaaaaaarrrggghhhhh!!!!!" 


"Aruna, lo kenapa?" tanya Vebi. Entah sejak kapan Vebi masuk ke kamar Aruna. Dan bagaimana bisa?

"Vebi.." Aruna memeluk erat tubuh sahabatnya. Menumpahkan semua air mata yang selama ini selalu ditahannya.

"Lo kenapa? Tenang dulu. Nih diminum." Vebi memberinya segelas air putih. "Gua tuh balik lagi kesini buat ngasih ini. Hape lo ketinggalan tadi di mobil gua. Pas gua sampe di depan kamar lo, gua denger lo teriak. Terus pas gua coba buka ternyata pintu lo gak dikunci. Bahaya tau!" jelas Vebi panjang lebar. Aruna diam dan mengeringkan pipinya yang basah.

"Veb, ternyata gua belum sembuh." ucap Aruna lirih. "Selama ini gua kira gua udah baik-baik aja. Semuanya udah normal. Tapi ternyata belum. Disini.." jelas Aruna sambil memegang dadanya. "di dalam sini masih ada luka, Veb. Gua masih belum ikhlas. Semuanya tadi seperti berputar ulang. Detik demi detik kejadiannya, gua masih inget jelas banget. Ternyata ini alasannya gua selalu bilang belum siap." Aruna kembali menenggak air putihnya.

Vebi tersenyum. "Gua sih udah tahu kalo lo masih nyimpen lukanya. Lo jangan pura-pura kuat lagi ya, Run. Jangan kabur dari ruang yang masih berantakan. Jangan juga lo kunci ruangannya. Walaupun berat, coba dihadapi. Pelan-pelan dibenahi ruangannya. Yang berantakan coba dirapihin. Yang perlu dibuang, yaudah dibuang. Tapi ya jangan semuanya dibuang juga. Kadang nih ya, kejadian yang buruk di masa lalu itu perlu kita simpan untuk sewaktu-waktu kita buka lagi." 

"Buat apa buka-buka kejadian buruk?" tanya Aruna.

"Katanya sih ya, salah satu tanda kalo kita udah ikhlas dan melepas kejadian buruk itu adalah saat kita membuka lagi kejadian itu, kita akan mengingatnya dengan persepsi yang berbeda. Bukan lagi sebagai luka kecewa. Begitu.." jelas Vebi.

"Ah valid gak tuh." ledek Aruna.

"Rese lo." sahut Vebi mendorong pundak Aruna. "Malem ini gua nginep ya. Jaga-jaga takut lo nekat minum racun. Hahahaha"

"Hmm... mulai kan." balas Aruna mendorong Vebi dengan bantal. 


***


Tok. Tok.

Aruna bangun begitu mendengar suara dari balik pintu kamarnya.

"Maaf, cari siapa ya, Mas?" tanya Aruna setelah tau siapa yang membangunkannya di hari minggu pagi.

"Saya Ian. Ini benar kan Kost-an Putri Ibu Bakti dengan nomer kamar 6?" tanya laki-laki dengan tinggi semampai dan berpakaian seperti ingin jogging lengkakp dengan sepatunya.

"Oh iya benar. Ada apa ya, Mas? Mas ini anaknya Ibu kost ya? Kayaknya bulan ini saya udah transfer deh Mas." lanjut Aruna menggaruk kepala, masih bingung. Vebi yang terbangun karena mendengar keributan kecil di pintu, datang menghampiri dua manusia itu.

"Ada apaan sih, Run?" tanya Vebi sambil mengucek-ngucek mata kanannya. "Eh Ian. Ya ampun udah sampe aja." Vebi kaget, Ian pun kaget. Cuma Aruna yang bingung.

"Lah kok lo kenal?" tanya Aruna.

"Hmm...aduh kayaknya bakal kelamaan kalo gua jelasinnya sekarang. Bentar ya Ian." ucap Vebi seraya menutup pintu kamar. "Daripada lo kebingungan, mending sekarang lo mandi. Nanti gua ceritain." bisik Vebi menjelaskan dengan kedua tangannya mendorong-dorong Aruna untuk masuk ke dalam kamar mandi.

"Iya tapi.." belum selesai bicara, Vebi langsung menutup pintu kamar mandi.

"Udah lo mandi aja. Gua janji pasti gua jelasin." ucap Vebi sedikit berteriak dari balik pintu kamar mandi.


***


"Yaudah nanti sore aku jemput ya, Run." ucap Ian seraya melambaikan tangan.

"Iya, Mas." jawab Aruna singkat. Aruna bukanlah tipe orang yang mudah akrab dengan orang yang baru ia kenal. Terlebih lagi dengan Ian. Sosok laki-laki yang secara tiba-tiba muncul di depan kamarnya pagi ini.

Aruna langsung masuk ke kamar setelah melihat motor Ian berlalu di ujung jalan.

"Rese ya lo!" ucap Aruna sambil melempar handuk basah bekas keringatnya ke arah Vebi.

"Hahahahaha! Ya maaf, Run. Tapi gimana date nya pagi ini?" ledek Vebi.

"Date apaan jam 06.00 pagi begini. Udah buruan jelasin ini semua apa?" tanya Aruna sedikit kesal. "tunggu. Jangan bilang lo lagi nyomblangin gua?" tanya Aruna dengan lirikan mata sinis.

"Yap! Tepat sekali. Udah gausah kaku-kaku banget. Berteman aja dulu. Ian orangnya baik kok. Gua udah kenal dia dari pas SMA dulu. Dan gua rasa, kalian punya kepribadian yang pas." jelas  Vebi.

"Ah rese lo. Tapi bener sih. Dia suka olahraga, sedangkan gua engga. Ya lumayan lah gua jadi punya pembimbing olahraga pribadi. Hahaha." 

"Makanya jangan jutek-jutek ya sama yang ini. Oya, denger-denger Ian itu suka sama cewe kutu buku  yang puitis dan romantis kayak lo gini. Haha!" ledek Verbi. "Gua balik dulu ya. Nanti siang gua telpon." seru Vebi sambil membuka pintu.

"Yaudah hati-hati ya." balas Aruna.


***


Hari ini tepat 3 bulan berlalu sejak pertama kali pertemuannya dengan Ian. Aruna masih tidak percaya dengan yang ada dihadapannya saat ini, Ian dan sebuah cincin yang ada di genggaman tangan kanannya. Tangan kiri Ian menggenggam erat jemari lentik Aruna. Ian ingin wanita dihadapannya itu ikut merasakan kesungguhan yang Ian rasakan, bahkan sejak pertama kali Ian mengetuk pintu kamarnya. Ian ingin ada kata "Ya" setelah pertanyaan yang dilontarkannya 3 menit lalu. Aruna masih diam belum menjawab. Matanya seperti sedang menimbang-nimbang apakah hatinya sudah siap untuk menerima Ian. Ataukah selama ini Aruna hanya merasa nyaman karena Ian selalu bersedia menemaninya menghabiskan waktu bersama, bertukar cerita, dan membahas setiap buku yang baru saja selesai dibaca. Aruna hanya takut membuat laki-laki setulus Ian menjadi kecewa begitu tahu masa lalu yang dimilikinya. Ian mengeratkan kembali genggamannya, seperti memberi isyarat bahwa ia ingin Aruna segera memberinya jawaban. 

"Mas, terima kasih sudah mau mengenalku sebagai Aruna. Bagi aku, waktu 3 bulan terakhir ini adalah warna baru yang kamu bawa ke dalam hidup aku. Kamu seperti warna-warni pensil yang sengaja Tuhan kasih dengan tujuan agar aku kembali mengingat bahwa keindahan itu masih ada. Tapi, di buku yang aku punya sekarang, belum sepenuhnya aku menghapus coretan dari kisah yang lama. Bukan karena aku gak mau, aku hanya masih kesulitan menghapusnya. Sejujurnya, aku menyadari betul bahwa perlahan, nama Mas sudah masuk dalam barisan baru di bukuku, menggantikan barisan cerita lama yang memang seharusnya sudah sejak lama tergantikan. Sekarang, aku hanya khawatir, apakah Mas bersedia menjadi penghapus tanpa meninggalkan tugas Mas sebagai pensil warna?"

"Run, kamu perlu tahu, sejak Mas melihat kamu untuk pertama kalinya, Mas punya keyakinan yang kuat bahwa kamu adalah sebaik-baiknya buku yang tepat untuk aku jadikan tempat mengukir kisah baru. Pada kamu lah aku mampu menjadi sebaik-baiknya pensil warna. Jika sekarang kamu meminta aku untuk menjadi penghapus dan membantumu menghilangkan cerita lama itu, maka aku siap. Yang aku butuh adalah bukan lembaran kosongmu, Run. Karena serusak apapun buku yang kamu punya sekarang, jika kamu mengizinkannya, aku mau memberikan banyak warna indah di dalamnya."

Ian mencium tangan Aruna. Memasangkan cincin di jari manisnya. 

Hari ini, malam ini, di Bandung tahun 2020, Aruna kembali mengizinkan hatinya untuk dicintai. 


Selesai.



H A L U

pergi dan hilanglah. seperti saat kamu benar-benar yakin untuk memberikan jarak diantara kita. katamu, bersama tidak akan sama jika aku tetap egois. kupikir, kamu yang keras kepala. karena berani menjaga jarak secara sepihak. tapi kamu bilang, aku yang kekanakan. karena hanya ingin suaraku yang didengar dan menutup telinga untuk semua kata yang kamu ucapkan.

pergi dan hilanglah. seperti saat kamu dengan semangat melangkah menjauh dariku. sekarang, aku kehilangan nyaman yang hanya kutemukan pada kedua pundakmu. nyaman dan tenangnya, kamu bawa pergi semuanya semaumu. aku seperti malam yang masih menggenggam erat pagi.

pergi dan hilanglah. seperti saat kamu dengan sadar menghapus setiap cerita yang ada. setiap cerita yang kita cipta, kini hanya sebatas coretan buram sebuah tinta. tiap-tiap sudut kota ini adalah potongan-potongan kecil dari banyaknya buku cerita yang kamu sobek. kamu sibuk menghilangkan cerita disaat aku sibuk mengenang semua yang pernah ada.

"kita sedang tidak bermain petak umpet. jangan bersembunyi, kamu tahu aku lemah dalam mencari."

harusnya kamu mendengar semua permintaanku waktu itu. agar tidak ada hati yang patah. harusnya kamu tetap bersamaku waktu itu. agar tidak ada hati yang kecewa. 

kamu cepat sekali berubah. pergi membuat luka lalu kembali dengan dada terbuka. yang tadinya keras kepala ingin meninggalkan, sekarang bersikeras membawa kembali semua kenangan. secepat kamu berlalu, secepat itu juga kamu halu.

kupikir, aku pantas melepaskan sesuatu yang sudah tidak ingin menjadi milikku. 

kupikir, aku pantas menemukan nyaman dan tenang pada pundak lainnya.

kupikir, memang ini adalah saatnya aku benar-benar harus berhenti membaca buku kosong.

kupikir, bukan aku yang lemah dalam mencari. hanya saja sesuatu yang dengan sengaja menghilang, memang tidak perlu untuk ditemukan kembali.

Bendera Kuning

 




Untuk yang hatinya sedang bingung. Diam terpaku pada pertengahan alur cerita yang terlanjur dimulai. Dimana kamu adalah mutlak pemeran utamanya. Dengan perasaanmu yang begitu menggunung. Seluruh ruang hatimu yang telah sesak oleh namanya. Juga jiwamu yang sepenuhnya telah terpenjara oleh besi-besi keegoisan. Diammu tak akan membawa hadiah apapun. Ini bukan semacam undian, dimana hatimu menjadi taruhan. Harus sedalam apalagi kamu merasa dikecewakan. Sudah tak berfungsi kah seluruh indera mu? 

Untuk yang hatinya sedang bingung. Meraba-raba apakah hatinya benar masih milikmu. Mengingat-ingat sudahkah ia membalas pesan terakhirmu. Juga kapan terakhir kali kalian bertukar panggilan sayang. Sekali lagi memundurkan waktu demi mendapat pembelaan atas segala keambisiusan untuk tetap memilikinya. 

Untuk yang hatinya sedang bingung. Benarkah hanya kamu satu-satunya kabar yang selalu ia nantikan muncul di tiap-tiap layar ponselnya menyala. Benarkah ia juga memiliki rasa antusias yang sama saat kamu memberi isyarat untuk adanya sebuah pertemuan. 

Cinta yang hangat tak akan terwujud jika hanya ada satu sisi. Hangat tak akan tercipta jika hanya punya satu telapak tangan, begitu pun dengan cerita yang kalian miliki. Bagaimana bisa kamu membangun cerita yang hanya ada kamu di dalamnya. Sekalipun dongeng kalian baru dimulai, bukan berarti ia bisa pergi dan hilang dari kerajaan. Sekali lagi, diammu tak akan membawakanmu hadiah apapun. Kecuali jika kamu menginginkan akan adanya bendera kuning untuk dongengmu sendiri. 

Sedari Awal



Sedari awal, kita adalah sebuah kerumitan yang kita ciptakan sendiri. Kita membawa kutub yang sama. Alih-alih saling membahagiakan malah berujung kepura-puraan. Lalu kita paksakan, meski kita punya banyak penolakan. Kita percaya tentang adanya perubahan di tengah-tengah alur cerita. Kita terus memaksa bersama meski seringnya tak sama. Kita ciptakan ilusi-ilusi indah agar mereka percaya bahwa sejatinya kita bahagia. Kita sepakat melupakan hakikat nikmatnya saling mencinta. Kamu mengajariku caranya membuat lengkungan sempurna di garis bibir. Dan aku membuatmu mengerti tentang fungsi dibalik bahumu yang kokoh. Lalu kita saling bertukar dimensi. Semakin lama, kita semakin saling menyakiti. Luka demi luka kita buat sendiri. Kita tidak saling menikmati perjalanan ini. Mimpi-mimpi kita hanya terpaku dengan seberapa tinggi nilai yang mereka beri. 
Sedari awal, kita adalah sebuah kesalahan. Kita buat titik tengah antara dua kisah yang semestinya masih bisa dipertahankan. Mengatas-namakan rasa bosan, kita sembunyikan satu ikatan. Saling membodohi pasangan yang mati-matian berusaha tetap mempertahankan. 

Sedari awal, kita adalah pemaksaan.
Sedari awal, ini adalah pengkhianatan. 

Penjelasan Kata kepada Luka


Dari kata,
Sunyimu adalah luka. Dari jutaan kata yang ada, tak satupun ucap mampu merangkainya menjadi satu kalimat penjelas. 
Matamu adalah luka. Dari banyaknya objek di dunia, tak ada satupun yang ditemuimu sebagai alasan bahagia. 
Malammu adalah luka. Tentang cerita sepasang kelopak hitam. Menitipkan buliran rindu pada angin malam agar terbang dan sampai pada Sang pemilik mimpi.
Menulismu adalah luka. Ungkapan dari bungkam mu yang akan terekam sepanjang masa. Menyampaikan tiap-tiap cerita lewat pilihan kata. Menyisipkan namanya lewat bayang-bayang sajak. Mengalunkan lagu romantis lewat bait-bait luka. 



Teruntuk jiwa yang kupuja..


Teruntuk jiwa yang kupuja..
Langkah yang kamu ambil dulu, mungkin kah akan membawamu kembali. Saat hentakan kerasmu menggoyahkan seluruh isi hati, mampukah kamu membalikkan arah laju yang kian menjauh. 

Teruntuk jiwa yang kupuja..
Genggam yang kamu renggangkan dulu, mungkin kah erat lagi. Saat semua harapan menjadi begitu ironi; dan tiap-tiap kebahagiaan kini sebatas gurauan.

Teruntuk jiwa yang kupuja..
Sandaran hangat yang kamu buang, bisakah kamu bawa pulang. Aku lelah menjadi lemah. Pagi dan malam semakin sulit kujamah. 


Jatuhkan Hatiku Pada Kamu


Jatuhkan hatiku pada cinta yang seiman. Cinta yang akan terus membawaku dalam taat. Cinta yang penuh sabar. Cinta yang bersedia mendewasa bersama. Cinta yang mampu kujadikan tempat berlindung saat resah mengejar hingga kesudut-sudut mimpi. Cinta yang tetap hangat kala prahara mendinginkan suasana. Cinta yang saling bertukar doa dan rindu jika berjauhan. Jatuhkan hatiku pada cinta yang lembut. Menyemai keindahan dari tiap-tiap rindu berkabut. Jatuhkan hatiku pada cinta yang kuat. Yang hanya tetap ada satu nama didalamnya. Jatuhkan hatiku pada cinta yang egois. Marah jika tak ada kata rindu di tiap-tiap pesan yang terkirim. Marah jika tak ada panggilan sayang di tiap-tiap telpon yang berdering. Marah jika ku terlambat menjawab telpon. Marah jika ku tak ada di saatnya membuka mata. Jatuhkan hatiku pada cinta yang pantang menyerah. Jatuhkan hatiku pada cinta yang tak mudah putus asa. Jatuhkan hatiku pada cinta yang terus mengulang kalimat 'aku menyayangimu'. Jatuhkan hatiku pada cinta yang teduh. Cinta dengan dada yang lapang. Cinta yang selalu bersedia mendengar. Cinta dengan bahu yang hangat. Yang hanya padanyalah satu-satunya tempatku menjadi tenang. 

Jatuhkan hatiku pada kamu.

Gerimis Kecil


Kecil-kecil gerimis turun
Sejak pagi jadi alasanku bangun
Kecil-kecil gerimis turun
Menghanyutkan rindu rasa racun
Kecil-kecil gerimis turun
Kau datang menjemput dan aku masih melamun
Kecil-kecil gerimis turun
Aku dibungkam ilusi culun

Langit Bilang


Satu hal yang lupa kutanyakan
Padamu saat sebelum meninggalkan
Pernahkah sedikit tulus kamu rasakan?
Saat sebelum akhirnya turun hujan
Berbalik dan lari kemudian
Janji-janji untuk tetap selaras begitu saja dilupakan
Akhirnya kita berlomba untuk saling melupakan
Kita bukan sepasang air yang jatuh dari langit
Tapi kenapa menyamakan langkah saja terasa begitu rumit
Benar yang langit bilang
Akan datang lain dari yang hilang

Untukmu, diriku sendiri


Untukmu yang kusayang, seberapa pentingkah perhatian dari mereka? Sampai membuatmu lupa bahwa mereka sepenuhnya bukan sebuah kewajibanmu, begitu pun sebaliknya. Sadarlah, akan ada dosa-dosa kecil yang terus kau timbun jika melulu masih begini. Turunkan kepalamu. Pandanganmu begitu berharga untuk bisa mereka dapatkan. 
Untukmu yang kusayang, masihkah kau tak menyadarinya? Tentang apa-apa yang boleh terlihat dan tidak. Tentang bagaimana dirimu tertutup jubah anggun dengan seharusnya. Mereka terlalu liar untuk bisa menjamahi keindahanmu dengan sepasang mata nakalnya. Indahmu tak pantas dinikmati begitu saja.

Untukmu yang kusayang, tak mampu kah kau melawan semuanya? Hingar-bingar dunia yang masih menjadi tujuan dalam berjalanmu. Mencari dan terus mencari tentang segala yang belum kau miliki. Tak mampu kah kau menyelaraskan langkahmu? Membersamai setiap jengkal waktu dengan garis lurus yang sebenarnya telah lama terpatri dalam hatimu. 

Untukmu yang kusayang, bisa kah kau berhenti sebentar saja? Semuanya memang telah membuatmu terlena. Sampai kau tak sadar sudah sejauh mana kau terbuai. Mengikuti kerlap-kerlip lampu yang terlihat menyenangkan, padahal justru akan menghancurkan. Sanggupkah kau memutar langkahmu? Jangan biarkan otakmu terus memusuhi hati kecilmu. Hatimu ingin didengar. Sejak kapan kau mulai tak terkendali seperti ini?


[Sebuah kumpulan puisi] Cerita yang Singkat untuk Ingatan yang Panjang


-AWALAN
Izinkanku bercerita, tentang kisahku yang singkat. Dimulai saat aku kembali mengingat, tentang kamu yang tak bisa lagi kudekap erat; Ada yang salah sejak pertama kali kamu mendekat. Tentang senyum yang berlabuh pada sapaan hangat. Membuatku berpikir apakah kamu yang sengaja Tuhan kirimkan untuk kujadikan penyelamat?

Ini bukan pertemuan pertama diantara kita. Bukan pula dialog perdana. Anehnya, mampu membuatku membuka mata. Menyadari bahwa akan ada obat dari setiap luka. Menghantarkanku pada halaman kedua. Kembali berani menulis beberapa harap dan doa. Dengan kata "aamiin" di setiap akhir kalimatnya. 

Tak ada ikatan spesial diantara kita yang kamu beri. Sejak dulu maupun saat ini. Pun manisnya janji-janji untuk terus membersamai. Semua hal baik yang kamu beri, itulah yang akan kuterima juga di akhir nanti, begitu terus diriku meyakini. 

Segala harap dan doaku terhenti di hari ini, hari bahagiamu. Tidak denganku. Tepat pada seperempat halaman baru. Bagaimana bisa secepat itu kamu berlabuh, pada dermaga yang penantinya bukan aku. Apa semudah itu membelokkan kapalmu yang padakulah akan tertuju.

Kamu ingin aku melakukan apa? Sejak kamu datang dan kembali menyapa, kupastikan kamulah satu-satunya yang membuatku lupa. Jika akan berakhir seperti ini, untuk apa kamu datang. Merawatku namun kembali kamu buang. Kamu sendiri yang meraih tanganku dan mengajak terbang. Kamu pula yang membuatku jatuh tersungkur pada perngharapan panjang. Kehancuranku kembali terulang. 

Harus bagaimana halaman ini kutamatkan. Kukira akan sampai pada akhir yang membahagiakan. Atau setidaknya tidak secepat ini kamu tinggalkan. Lalu bagaimana dengan doa-doa yang terlanjur sering kusampaikan pada Tuhan. Atau jangan-jangan Tuhan sedang mempersiapkan jawaban, namun kamu terlalu cepat menyimpulkan. Kamu begitu cepat mengambil keputusan. Bahkan sebelum aku berani menjelaskan tentang semua perasaan. 


-AKHIRAN
Pencarianmu telah sampai pada titik temu. Doa-doa yang kuyakin kau panjatkan di tiap malam telah menemukan tempatnya bernaung. Langkahmu telah sampai pada peraduannya. Menemukan langkah lain yang juga tertuju pada titik yang sama. Pilar-pilar kokoh yang kau bangun telah berpenghuni, tak lagi kau sendiri. Kakimu telah memiliki sepasang lainnya untuk bersama-sama mencapai puncak. Dengan iringan pahala ditiap langkahnya. Dan juga doa sebagai pengeratnya. Selamat karena telah berbahagia. Akan kuamini semua "semoga" yang dikirimkan padamu. Sedikit banyaknya aku juga bahagia. Karena beberapa langkahmu, sebelum sampai menemukan langkahnya, adalah juga langkahku.

Mungkin Sebuah Surat


Pada hati yang sudah lama tertatih, masih kuatkah kau menahan semua ini? Saat pohon-pohon harapmu tersapu bersih oleh badai kemarin. Menyisakan banyaknya serpihan debu yang seringnya membuat matamu memerah. Belum lagi nafasmu. Kau sampai harus menarik nafas panjang hanya untuk satu detik paru-parumu mengembang. Coba sekarang tengok telapak kakimu. Mau seperti apalagi kau paksa ia tuk melangkah? Menopang beratnya tubuh yang terus menerus menjamu rindu. Membuatmu hilang arah tak tahu kemana harus meneduh.
Sampai disini apa sudah jelas? Belum. Kau masih saja keras kepala. Terus mendongak seakan tak pernah terjadi apa-apa. Sungguh tak pantas kau disebut manusia. Wajar bila kau ditinggalkan begitu saja. Lihat dirimu! Apa yang dulu menjadi alasanmu bertahan sampai tak mau mendengarkan. Perjalananmu sia-sia. Hatimu akhirnya tetap menemui kecewa. Sadarkan dirimu yang mulai sekarat. Sudah waktunya kau beristirahat. Jika memang sudah terlambat, biarkan ini menjadi sebuah surat. Surat dariku untuk hatiku yang semakin tersesat:

Apakah sesulit ini kau bertahan? Sudah lama kau biarkan dirimu mengikuti mata angin yang seringnya menyesatkan. Tak sedikit pun kau kasihan? Jika lelah mestinya kau katakan, bukan paksakan. Jika sedih mestinya kau ungkapkan, bukan rahasiakan. Tak bisakah kau melepaskan? Semua. Semua yang ada dalam genggaman dan pikiran. Tak bisakah kau merelakan? Semua. Semua yang ada dalam ingatan juga perasaan. 


Rain


As the rain;
Come then go
Come for wetting the earth
Then
Go for finding another part
As same as you.

Popular Posts