Kerap kali rindu datang secara tiba-tiba. Lewat mimpi, ia selipkan sebuah nama. Samar-samar pula ia tunjukkan wajah yang tak perlu waktu lama untukku ingat segera. Rindu tak pernah mau tahu betapa sulitnya aku menghapus semua rekam kisah yang pernah ada. Ia lebih egois dari Sang Pemiliknya. Dan aku, ternyata tak pernah benar-benar bisa menghilangkan walau nyatanya aku lebih dulu dihilangkan.
Seringkali rindu terasa begitu kuat ditengah sibuk yang sengaja kubuat-buat. Rekam kisah kita seakan tahu apa yang harus diperbuat. Tentang hal melupakan, aku kalah hebat. Maaf karena dulu aku begitu sering mengabaikan, dan sekarang biar saja perpisahan yang menghukumku jauh lebih kejam. Pergimu mungkin akan lebih baik daripada tetapmu. Aku hanya tidak ingin kamu tahu bagaimana terlukanya aku saat wajahmu hanya bisa kutemui dalam mimpi. Dan telapakmu hanya bisa kugenggam dalam mimpi. Juga pundak itu, yang hanya bisa kumiliki dalam mimpi.
Kerap kali rindu membuat semua yang terjadi terasa tidak adil. Bagaimana bisa kamu ikut merasakan sedangkan kamu sibuk membagi rindumu dengan dia. Bagaimana bisa secepat itu kamu mengganti nama yang selalu kamu selipkan dalam sujudmu. Benarkah ini adalah rindu yang tak pantas?
Terlepas dari peliknya memiliki rindu sendiri, pergimu mengajarkan aku banyak hal.Tentang luka-luka yang juga perlu dihargai, juga mencintai dengan lebih masuk akal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar