Pada hati yang sudah lama tertatih, masih kuatkah kau menahan semua ini? Saat pohon-pohon harapmu tersapu bersih oleh badai kemarin. Menyisakan banyaknya serpihan debu yang seringnya membuat matamu memerah. Belum lagi nafasmu. Kau sampai harus menarik nafas panjang hanya untuk satu detik paru-parumu mengembang. Coba sekarang tengok telapak kakimu. Mau seperti apalagi kau paksa ia tuk melangkah? Menopang beratnya tubuh yang terus menerus menjamu rindu. Membuatmu hilang arah tak tahu kemana harus meneduh.
Sampai disini apa sudah jelas? Belum. Kau masih saja keras kepala. Terus mendongak seakan tak pernah terjadi apa-apa. Sungguh tak pantas kau disebut manusia. Wajar bila kau ditinggalkan begitu saja. Lihat dirimu! Apa yang dulu menjadi alasanmu bertahan sampai tak mau mendengarkan. Perjalananmu sia-sia. Hatimu akhirnya tetap menemui kecewa. Sadarkan dirimu yang mulai sekarat. Sudah waktunya kau beristirahat. Jika memang sudah terlambat, biarkan ini menjadi sebuah surat. Surat dariku untuk hatiku yang semakin tersesat:
Apakah sesulit ini kau bertahan? Sudah lama kau biarkan dirimu mengikuti mata angin yang seringnya menyesatkan. Tak sedikit pun kau kasihan? Jika lelah mestinya kau katakan, bukan paksakan. Jika sedih mestinya kau ungkapkan, bukan rahasiakan. Tak bisakah kau melepaskan? Semua. Semua yang ada dalam genggaman dan pikiran. Tak bisakah kau merelakan? Semua. Semua yang ada dalam ingatan juga perasaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar